Pemanfaatan Media Sosial Instagram sebagai Media Penyampaian Informasi Tentang Kesehatan Mental di Masa Pandemi

 


Sumber foto : Pinterest


    Sudah hampir satu tahun lebih bangsa Indonesia diserang oleh pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua kegiatan dilaksanakan secara online, membiasakan diri menjalani berbagai macam kegiatan hanya di rumah. Media sosial menjadi penghubung antar satu dengan yang lainnya agar hubungan, kegiatan, dan yang lainnya tetap bisa berjalan dan terlaksana dengan baik sehingga hampir semua informasi dan kegiatan kita dapatkan melalui media sosial. Banyaknya informasi mengenai perkembangan penyebaran Covid-19 yang semakin pesat, angka kematian yang semakin tinggi, kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengharuskan segala kegiatan dilakukan di rumah, semakin banyak wilayah yang menjadi zona merah, banyaknya pekerja yang diPHK, pengangguran semakin banyak, pembelajaran yang masih dilakukan secara online, tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut sangat berpengaruh kepada kondisi kesehatan mental kita. Semakin banyak informasi-informasi yang tidak diharapkan masuk ke telinga, semakin cemas kita dibuatnya, semakin cemas kita maka semakin buruk juga kesehatan mental kita. Dalam hal ini, Teknologi Informasi dan Komunikasi pada kondisi saat ini sangat diperlukan sebagai upaya untuk tetap bisa mengedukasi masyarakat tentang bagaimana pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah pandemi covid-19 ini di samping maraknya informasi-informasi mengenai pandemi Covid-19 yang juga dapat memberikan efek negatif pada kesehatan mental kita. Dan salah satu media yang dapat digunakan dalam pemamfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi yaitu media sosial Instagram.

        Menurut Osborne. 2001:225, penelitian selama 10 tahun di kota New York, tentang kesehatan mental di kota-kota metropolitan, mengungkapkan bahwa sekitar 80% orang dewasa menunjukkan beberapa gejala penyakit mental dan satu di antara empat orang benar-benar rusak kesehatannya.

            Selain itu menurut Hasneli: 2014, mengemukakan bahwa,
      "Kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antar fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berlandaskan keimanan dan ketaqwaan serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat."

            Dalam buku Mental Hygiene yang dikutip oleh Fakhriani (2019:11), "kesehatan mental berkaitan dengan beberapa hal. Pertama, bagaimana seseorang memikirkan, merasakan dan menjalani keseharian dalam kehidupan; Kedua, bagaimana seseorang memandang diri sendiri dan orang lain; dan Ketiga, bagaimana seseorang mengevaluasi berbagai alternatif solusi dan bagaimana mengambil keputusan terhadap keadaan yang dihadapi" (Yusuf: 2011).

        Dikutip dari Tempo.co bahwa Pakar kesehatan yang berfokus pada stres dan trauma di Pusat Medis Wexner Universitas Negeri Ohio, Ken Yeager, mengatakan ada beberapa faktor yang bisa mengganggu kesehatan mental di masa pandemi Covid-19. Pada orang-orang berusia di atas 75 tahun misalnya, pandemi mewakili risiko nyata pada kesehatan, sehingga banyak orang mengatakan bahwa orang tua merupakan usia yang rentan dapat terkena virus. Kemudian, bagi yang berusia 56-74 tahun, masalahnya lebih pada apakah mereka bisa pensiun dengan tenang, mengingat terjadinya resesi beberapa waktu terakhir. Selain itu, para remaja dan yang berusia lebih muda cenderung merasa cemas karena melihat masa depan yang tidak pasti, termasuk fenomena banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan. Selain itu, pemahaman atau pengetahuan mengenai kesehatan mental juga masih belum merata di berbagai lembaga formal maupun nonformal, seperti sekolah, perguruan tinggi, dan lain-lain.

        Dari beberapa penjelasan tersebut, semakin kita tahu bahwa menjaga kesehatan mental di masa sekarang itu sangat penting, apalagi bagi generasi milenial sekarang yang menurut beberapa pendapat merupakan golongan yang paling banyak terganggu kesehatan mentalnya. Kesehatan mental dapat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang baik fisik maupun psikis. Oleh karena itu, dalam menjaga kesehatan mental kita dapat dilakukan dengan beragam upaya, salah satunya dengan adanya postingan edukasi atau informasi mengenai upaya menjaga kesehatan mental di Instagram.

        Instagram dirasa tepat untuk digunakan sebagai media pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam upaya memberikan informasi mengenai kesehatan mental. Karena, menurut data dari Omnicore, digital marketing agency di Amerika Serikat, per September 2018 pengguna aktif Instagram tembus 1 miliar per bulan, 500 juta pengguna aktif per hari, 400 juta Instagram Story per hari, 25 juta pengguna Instagram bisnis, lebih dari 100 juta unggahan foto dan video perhari, 4.2 juta likes per hari. Total unggahan foto hingga September 2018 adalah 50 miliar dan angka ini terus bertambah hingga sekarang (Book,Stiletto. Afandi,Ranny. 2019:2).

        Selain itu, dikutip dari laman Hootsuite, terdapat 175.4 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2020 ini dengan kurun waktu pemakaian yaitu 7 jam 59 menit, dengan pengguna media sosial aktif secara keseluruhan yaitu berjumlah 160 juta pengguna dan pengguna aktif Instagram yaitu sebanyak 63 juta jiwa dari total penduduk Indonesia, yaitu sekitar 272.1 juta jiwa. Instagram menjadi media sosial yang paling banyak di akses di tahun 2020 ini, setelah Youtube, WhatsApp dan Facebook yang menempati posisi teratas. Dari data tersebut, Indonesia menempati posisi keempat sebagai negara teratas pengguna Instagram.

        Dengan adanya data di atas menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial Instagram. Sebagai salah satu pemanfaatan TIK dalam upaya mengedukasi untuk menjaga kesehatan mental, yaitu dengan memposting informasi-informasi mengenai kesehatan mental. Seperti yang sudah dilakukan beberapa akun penggiat kesehatan mental yang giat membagikan informasi seputar kesehatan mental, diantaranya yaitu:
1) @menjadimanusia.id
Menjadi Manusia memiliki sebuah landasan kalimat yang tercantum di bio Instagramnya, yaitu platform for those who question a lot about life. Menghadirkan perspektif dan cerita dari cerita orang-orang tentang bagaimana berdamai dengan kegagalan, berjuang dengan mental issue dan lainnya. Menjadi Manusia memiliki misi untuk mengajak kita bahwa kita tidak pernah sendirian dalam menghadapi masalah, dengan melakukan pendekatan mengenai keseharian yang ada di sekitar kita yang seringkali luput karena seringkali hanya sebatas memikirkan diri sendiri dan humanis. Selain itu, Menjadi Manusia juga sering mengadakan open submission yang hasilnya dapat dicetak menjadi buku ataupun dibagikan melalui media sosial lain seperti Podcast.
2) @satupersenofficial
Satu Persen ini lebih praktikal bagaimana mengajak untuk mempelajari hal-hal di kehidupan yang tak diajarkan di sekolah melalui postingan di Instagram dan melalui video-video di YouTube, pembahasannya tentang pengembangan diri dan kesehatan mental, namun mereka juga membahas mengenai karir, keuangan, dan filsafat. Selain itu, Satu Persen juga menyediakan layanan mentoring sesuai dengan kebutuhan seperti mengatasi kecemasan, overthinking, mencari tujuan hidup, dan kelas introvert. Dari sisi penyampaiannya, Satu Persen tidak terkesan menggurui, sebanyak apapun saran atau pilihan yang diberikan, keputusan akhirnya tetap diserahkan ke kita. Filosofi dari nama Satu Persen itu sendiri juga tidak kalah hebatnya, yaitu menjadi lebih baik setidaknya satu persen setiap harinya.
3) @ibunda.id
Akun Ibunda ini lebih khusus untuk layanan curhat dan konsultasi online dengan psikolog yang berkaitan dengan masalah diri, percintaan, pertemanan, hingga keluarga. Selain layanan ini, di Instagram juga sering membuat postingan edukasi kesehatan mental, cocok untuk yang sekiranya ingin konsultasi secara online terlebih dahulu sebelum bertemu tatap muka.
4) @riliv
Riliv merupakan akun kesehatan mental yang sudah memiliki aplikasi sendiri yang dinamakan Riliv juga, berguna untuk belajar meditasi dari tingkat dasar sampai lanjutan. Fungsinya macam-macam, ada yang untuk ketenangan, mengatasi susah tidur, overthinking, dan lain-lain. Melalui aplikasi Riliv juga kita bisa mentrack mood kita dengan catatan harian, dapat mendengarkan cerita tidur dan juga ada konseling online. Dan di Instagramnya sendiri, Riliv mengemas postingan yang tak kalah informatif dengan desain yang modern, sehingga tidak membuat kita cepat bosan dengan postingannya.
5) @duduk.dulu
Duduk Dulu merupakan sebuah akun yang berisi kumpulan dari potongan-potongan tulisan untuk pengingat bahwa setidaknya kita  sebagai manusia tetap menjaga kewarasan diri. Kemudian juga untuk lebih memerhatikan diri sendiri dan jangan mengabaikan diri sendiri. karena yang selalu ada untuk kita adalah memang diri kita sendiri. Duduk Dulu juga sudah mengeluarkan beberapa karyanya melalui buku, akun yang terlahir dari seorang penulis bernama Syahid Muhammad ini sudah mengeluarkan buku diantaranya yaitu novel Kala, Amor Fati, Egosentris, Paradigma, Saddha, 25 Jam, Kamu Gak Sendiri, dan buku terbarunya yang berjudul Duduk Dulu.
6) @pijarpsikologi
Pijar Psikologi ini informatif sekali dalam memberikan penjelasan-penjelasannya mengenai kesehatan mental dan psikologi. Artikel-artikelnya juga bukan hanya dibawakan dengan penjelasan yang tidak kaku, namun juga menyediakan layanan curhat secara gratis dengan psikolog yang tersebar di Indonesia. Postingan yang dibagikan melalui akun Instagramnya selalu dikemas secara informatif dan sederhana namun pesan yang disampaikannya pun tetap sampai.
7) @greatmind.id
Great Mind sendiri sebetulnya lebih ke kumpulan pikiran-pikiran terbaik di negeri ini yang mungkin belum terlalu menjadi banyak perbincangan. Selain di Instagram, Great Mind juga ada artikel-artikel di websitenya untuk detail yang lebih mendalam. Seperti misalnya pada artikel Bercakap Bersama Rara Sekar: Menanam Kehidupan yang membawa insight bahwa dari menanam aneka tumbuhan di lahan rumah dapat mengajarkan banyak hal dalam kehidupan. Pengalamannya ini didapat sewaktu kuliah di Selandia Baru bersama Ben Laksana. Hal ini dapat kita terapkan selama pandemi ini untuk menemani aktivitas di rumah saja, karena menurut para pakar menanam tanaman dapat mengurangi tingkat stress yang kita alami.
8) @jiemiardian
Jiemi Ardian merupakan seorang dokter yang aktif membagikan hal-hal seputar kesehatan jiwa di media sosial Twitter dan Instagram. Selain itu juga dokter Jiemi ini sering membagikan video mengenai kesehatan mental melalui akun Youtube-nya yang dijelaskan dengan ilmu psikiatri. Dari pembahasan yang dibagikannya, kita bisa memahami bahwa kenapa manusia bisa cenderung berperilaku A,B, atau C, dan semua ada ilmunya. Selain itu, kita juga bisa sekalian belajar mengenali emosi dan diri sendiri, memvalidasi perasaan namun bisa mengontrol aksi, perihal menyembuhkan luka batin, sampai bahasan relationship.

        Jadi, dari pemaparan di atas kita tahu bahwa tidak selalu media sosial memberikan dampak negatif terhadap kita sebagai pengguna atau penikmat media sosial. Tidak selalu dunia teknologi menyebabkan adanya kejahatan teknologi, semua tergantung bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkan fasilitas yang telah ada. Media sosial bisa menjadi positif jika kita benar-benar dapat memanfaatkan media TIK itu dengan baik, seperti pada kondisi pandemi sekarang bahwa kesehatan mental menjadi hal yang perlu diperhatikan. Maka dari itu, kita bisa memanfaatkan media Teknologi Informasi dan Komunikasi berupa media sosial Instagram untuk berbagi informasi serta untuk ikut mengajak khalayak untuk tetap menjaga kondisi kesehatan mentalnya di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini.

***

REFERENSI :

Buku / e-Book:

Book,Stiletto.Afandi,Ranny.2019.How To Win Instagram: Trik Menjadi Instagram Influencer.Yogyakarta:Stiletto Book.

Fakhriyani,Diana Vidya.2019.Kesehatan Mental.Pamekasan:Duta Media Publishing.

Hayes,Clarin.2020.Are You Okay?.Jakarta:Loveable.

Osborne,Cecil G.2001.Seni Bergaul.Terjemahan oleh Fenny Veronica.Gunung Mulia:Jakarta.

Simanjuntak,Julio.2019.Merawat Kesehatan Mental Keluarga.Tangerang:Yayasan Pelikan.

Internet

Riyanto,Andi Dwi.2020.Hootsuite (We are Social) : Indonesian Digital Report 2020.[Online]. Tersedia di: https://andi.link/hootsuite-we-are-social-indonesian-digital-report-2020/#:~:text=Jumlah%20pengguna%20Instagram%20di%20Indonesia%20tahun%202020%3A%2063%20juta%20jiwa. Diakses pada 21 April 2021.

U,Marfa.2020.7+ Akun Instagram Tentang Kesehatan Mental yang Wajib Follow.[Online]. Tersedia di: https://www.umimarfa.web.id/2020/07/akun-instagram-kesehatan-mental.html. Diakses pada 22 April 2021.

Widiyarti,Yayuk.2020.Pakar Ungkap Faktor yang Bisa Ganggu Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19.[Online]. Tersedia di: https://gaya.tempo.co/read/1407844/pakar-ungkap-faktor-yang-bisa-ganggu-kesehatan-mental-di-masa-pandemi-covid-19. Diakses pada 22 April 2021.

Postingan populer dari blog ini

Tiga Poin Menarik dari Buku What’s So Wrong About Your Self-Healing karya Ardhi Mohamad

Kesetaraan Gender dalam Pendidikan di Indonesia