Tiga Poin Menarik dari Buku What’s So Wrong About Your Self-Healing karya Ardhi Mohamad

 Buku What’s So Wrong About Your Self-Healing karya Ardhi Mohamad
sumber : https://www.instagram.com/ntaa.30/

“Gue udah melakukan berbagai cara untuk self-healing. Tapi apa yang salah dari self-healing gue sampai gue merasa makin jauh dari diri gue sendiri?”

Buku yang ditulis oleh Ardhi Mohamad pada tahun 2021 ini dibuka dengan sebuah kalimat ”Self-healing is a long journey. The harder it is, the stronger your heart will be.” Proses penyembuhan diri itu panjang, tidak sesederhana kelihatannya. Tidak sesederhana pergi jalan-jalan kemudian luka yang ada pada diri itu hilang, tidak.

Dengan latar belakang pendidikan Psikologi, 10 bab tentang masalah-masalah luka batin yang sering dihadapi, disampaikan dengan penyampaiannya yang ringan, santai dan jelas. Meskipun terdapat istilah dalam ilmu psikologi yang dirasa asing, tetapi penulis dapat menyampaikannya dengan ringan dan mudah dimengerti.

Bagian favorit dari buku ini adalah bagian tentang orang tua. Ya, ternyata hubungan kita dengan orang tua kita memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk diri kita menjadi seperti sekarang ini.

Lalu, apa saja poin menarik dari buku ini yang bisa kita ambil sebagai pembelajaran? Salah satunya dalam proses menyembuhkan diri sendiri dari luka batin yang kita miliki.

Hubungan Kita dengan Orang Tua / Pola Asuh Orang Tua
Dari kecil kita sudah dituntut untuk jadi sempurna. Dari kecil kita sudah mempersiapkan dewasa kita. Dari kecil kita sudah dihadapkan oleh sebuah keharusan. “kamu harus belajar yang rajin ya biar pinter”, adalah sebuah contoh. Dan ternyata, pola asuh orang tua terhadap kita sangat berpengaruh besar pada pembentukan pribadi kita yang sekarang ini.
Kita yang sekarang memiliki pribadi yang pembangkang dan keras, mungkin terbentuk dari pola asuh yang keras dari orang tuanya. Kita yang memiliki self-esteem yang baik, mungkin terbentuk dari pola asuh yang baik dari orang tuanya. Mungkin bisa saja kita menyalahkan orang tua atas pola asuh yang menjadikan diri kita seperti sekarang ini. Tapi, tidak ada orang tua yang sempurna, karena mereka juga manusia. Orang tua kita juga kesulitan, tapi mereka tetap berusaha.

Ketika Kita Merasa Tidak Punya Teman
"Kita adalah generasi paling kesepian"
Merasa atau tidak? Semakin dewasa kita, maka semakin bisa dihitung jari orang yang jadi teman kita, atau bahkan tidak ada? Disaat kita sedang membutuhkan figure seorang teman, ternyata yang kita butuhkan itu tidak ada. Sehingga pada akhirnya, kita memilih untuk semakin menjauh dan menyimpan semuanya sendiri.
Ternyata kita sudah sampai di sebuah fase pembelajaran. Fase dimana kita dituntut untuk sadar bahwa kita sebagai manusia, tidak bisa selalu bersama, aka nada waktunya renggang, menjauh, dan berpisah. Tapi, kesepian di dunia bisa saja terbayarkan. Ketika kita haya punya Allah, itu sudah lebih dari cukup. If we really believe.
“Jangan bergantung pada apa yang tidak bisa bertahan, jangan bergantung pada sesuatu yang ditakdirkan akan meninggalkan kita."

Sudut Pandang Lain dari Sebuah Kegagalan
Seseorang dalam hidupnya pasti pernah merasakan sebuah kegagalan. Gagal juara lomba, gagal meraih peringkat di kelas, gagal masuk perguruan tinggi, gagal lolos seleksi, dan kegagalan yang lainnya. Tapi terkadang, kegagalan adalah jawaban terbaik dari pertanyaan kita selama ini.
Tidak ada gagal dalam berusaha, tapi ada pintu lain yang harus kita tuju.
Waktu pertama baca bab-bab awal di buku ini sempat tidak ingin melanjutkan, mungkin belum siap karena isinya tuh terlalu relate sama kehidupan, wkwkwk. Takut tertampar oleh isi buku ini kayaknya. Tapi, buku ini memang worth it banget buat dibaca kaum muda sekarang. Dijamin gak bakalan nyesel dehh, terbukti dengan banyaknya bookstagram yang me-review buku ini dan menjadi salah satu buku best seller juga di toko-toko buku.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir... :)

Postingan populer dari blog ini

Kesetaraan Gender dalam Pendidikan di Indonesia

Pemanfaatan Media Sosial Instagram sebagai Media Penyampaian Informasi Tentang Kesehatan Mental di Masa Pandemi