Kesetaraan Gender dalam Pendidikan di Indonesia
KESETARAAN GENDER DALAM PENDIDIKAN
DI INDONESIA
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Dosen Pengampu: Ahmad Hamdan, M.Pd
Oleh:
Kelompok 5
|
Dini Nurfitri |
192103038 |
|
Nita |
192103051 |
|
Muhammad Dida Armandio |
192103061 |
|
Elisabeth
Angelia Sucityaswati |
192103064 |
JURUSAN
PENDIDIKAN MASYARAKAT FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
SILIWANGI
RINGKASAN............................................................................................................. II
DAFTAR ISI................................................................................................................ III
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang...................................................................................................... 1
B. Manfaat................................................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA
A. Kajian Teori.......................................................................................................... 4
A) Definisi Kesetaraan Gender................................................................................. 4
1. Pengertian Gender............................................................................................... 4
2. Pengertian Kesetaraan Gender............................................................................. 5
B) Kesetaraan Gender dalam Pendidikan................................................................. 6
B. Cerita pendek........................................................................................................ 11
BAB III TAHAP PELAKSANAAN
A. Naskah Cerita........................................................................................................ 5
B. Jalan Cerita........................................................................................................... 14
BAB IV HASIL YANG
DICAPAI
Analisis SWOT.............................................................................................................. 26
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan............................................................................................................ 29
B. Saran...................................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... IV
BAB I PENDAHULUAN
Indonesia sendiri memiliki banyak penduduk yang menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam sensus penduduk tahun 2020 didominasi oleh kaum laki-laki dengan rasio 102, atau dalam 102 laki-laki terdapat 100 perempuan (bps.go.id). Berdasarkan data tersebut dapat terlihat jelas bahwa saat ini jumlah laki-laki di Indonesia lebih banyak daripada perempuan begitupula di dunia. Menurut data dari Bank Dunia (liputan 6.com) jumlah penduduk di bumi yaitu 7,79 miliar dengan persentase perempuan hanya 49,58 persen. Hal ini memperlihatkan bahwa seolah-olah semakin sedikitnya peluang perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa laki-laki memiliki kesempatan yang sama dengan perempuan. Namun, sejak tahun 2016 semenjak PBB dan 193 negara anggotanya mencanangkan sebuah kesepakatan baru yang disebut dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals yang kemudian disingkat dan dikenal dengan SDGS, dalam tujuan-tujuan yang dicanangkan akan tercapai pada tahun 2030 salah satunya adalah perjuangan kesetaraan gender. Dalam hal ini, diharapkan pandangan masyarakat terhadap laki-laki yang sebelumnya selalu dianggap aneh apabila ia menjadi seorang ahli tata boga atau perempuan yang dianggap tidak biasa apabila ia menjadi seorang teknisi ahli di bidang mesin perlahan-lahan akan berubah. Bagaimana cara mewujudkannya? Salah satunya adalah melalui pendidikan.
Pendidikan merupakan salah satu cara supaya pembangunan dapat terlaksana. Namun tidaklah mudah untuk mencapai tujuan tersebut, karena perbedaan pandangan masyarakat serta nilai dan norma yang lebih dulu hadir dalam tengah-tengah masyarakat menjadikan salah satu tantangan dalam mewujudkan maksud dan tujuan pembangunan. Dengan melalui pendidikan yang menghindari diskriminatif maka akan membawa kebermanfaatan bagi laki-laki maupun perempuan terutama dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan di antara keduanya. Bagaimanakah kondisi pendidikan di Indonesia saat ini? Apakah sudah berlaku adil bagi laki-laki maupun perempuan?
Kenyataannya rata-rata lama sekolah antara laki-laki dan perempuan berbeda, pada tahun 2020 tercatat 8,90 persen dan perempuan hanya 8,07 persen. Banyak kemungkinan yang kemudian menjadi alasasan mengapa ketimpangan ini masih terjadi di Indonesia. Sebagai contoh, salah satunya adalah masih banyaknya daerah di Indonesia yang memegang teguh pandangan patriarkis dimana sebuah keluarga masih menganggap seorang perempuan yang hanyalah penting untuk urusan membantu pekerjaan rumah dan melayani suami di kemudian hari. Hal ini yang juga mengakibatkan banyaknya anak- anak perempuan yang tidak melanjutkan sekolahnya sehingga, masyarakat Indonesia harus merubah pandangannya terhadap hal tersebut. Kondisi lebih lanjut dan upaya memperjuangkan kesetaraan gender dalam dunia pendidikan di Indonesia kemudian akan dibahas di dalam makalah ini.
B. Manfaat
Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan, maka makalah ini disusun dengan harapan dapat memberikan manfaat yaitu:
1. Manfaat Teoritis
a. Bermanfaat untuk menambah kepustakaan dan dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian dan analisis yang sejenis.
b. Sebagai bahan acuan untuk mengkaji dan mengobservasi tentang bagaimana kesetaraan gender dalam dunia pendidikan untuk meningkatkan fasilitas pendidikan yang diberikan dalam rangka membantu mewujudkan kesetaraan gender secara menyeluruh di Indonesia.
2. Manfaat Praktis (Pembaca)
a. Bagi Masyarakat. Dapat menambah pengetahuan dan pandangan mengenai gender dan keadaan dalam pelaksanaan kesetaraan gender khususnya di dunia pendidikan di Indonesia.
b. Bagi Pemerintah. Memberi masukan kepada pemerintah Indonesia dalam upaya memperluas pelaksanaan pendidikan berkeadilan bagi seluruh masyarakatnya Indonesia.
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Kajian Teori
A)
Definisi Kesetaraan Gender
|
Ringkasan |
Scene |
Alat yang digunakan |
Narasi |
Keterangan |
|
Menampilkan
video pemandangan atau pohon- pohon sambil diiringi narasi pembuka. |
Scene
1: Video landscape . |
Smartphone |
Berupa
video dan musik pembuka. |
Menampilkan
judul cerita diawal scene. |
|
Seorang
perempuan sedang berjalan ke suatu arah sambil bergumam dalam hatinya. |
Scene 2
: Video langkah kaki. |
Smartphone |
Masyarakat
Indonesia pada umumnya masih menganut budaya patriarki yang begitu kental. Di
belahan dunia lain pun juga demikian, lakilaki selalu diprioritaskan daripada
perempuan. Walaupun kasus ketidaksetaraan gender di
masyarkat tidak ekstrim seperti masa lalu, namun masih ada tindakan diskriminasi |
Teknik
shot menggunaka n angle frog eye dan
long shot. |
|
|
|
|
terhadap perempuan. |
|
|
Ada dua orang |
Scene
3
: |
Smartphone |
Kesetaraan |
Teknik shot |
|
atau lebih yang |
Video |
|
gender |
menggunaka |
|
sedang |
orang |
|
merupakan salah |
n long
shot, |
|
berinteraksi satu |
yang |
|
satu hak asasi |
medium
long |
|
sama lainnya. |
sedang |
|
manusia. Hak |
shot, dan |
|
|
berinterak |
|
untuk hidup |
medium
shot. |
|
|
si. |
|
secara |
|
|
|
|
|
terhormat, bebas |
|
|
|
|
|
dari rasa |
|
|
|
|
|
ketakutan dan |
|
|
|
|
|
bebas |
|
|
|
|
|
menentukan |
|
|
|
|
|
pilihan hidup |
|
|
|
|
|
tidak hanya |
|
|
|
|
|
diperuntukkan |
|
|
|
|
|
bagi laki-laki, |
|
|
|
|
|
perempuan pun |
|
|
|
|
|
memiliki hak |
|
|
|
|
|
yang sama pada |
|
|
|
|
|
hakikatnya. Tapi |
|
|
|
|
|
sayang nya |
|
|
|
|
|
sampai saat ini, |
|
|
|
|
|
perempuan |
|
|
|
|
|
seringkali |
|
|
|
|
|
dianggap lemah |
|
|
|
|
|
dan hanya |
|
|
|
|
|
menjadi sosok |
|
|
|
|
|
pelengkap. |
|
|
Kegiatan sehari- hari seorang wanita pada umumnya
ketika berada di rumah. |
Scene
4 : Video seseorang yang
sedang bersih- bersih. |
Smartphone |
Terlebih
lagi adanya pola berpikir bahwa peran perempuan hanya sebatas bekerja di dapur, mengurus keluarga dan anak,
sehingga pada akhirnya hal di luar itu menjadi tidak penting. |
Teknit shot menggunaka n medium long shot. |
|
Seorang
wanita dengan karirnya di dunia luar, bekerja mengekspresika n mimipinya. |
Scene 5 : Video seorang wanita yang sedang bekerja. |
Smartphone |
Ketika
seseorang yang memiliki jiwa semangat juang untuk mencapai cita-citanya. Namun hal
itu banyak dibantah oleh kalangan masyaarakat yang tidak mengetahui goals
kita itu akan seperti apa. Untuk
apa berlatih seperti itu? Untuk apa |
Teknit shot menggunaka n medium long shot dan medium
shot. |
|
|
|
|
berpendidikan
tinggi? Toh semua perempuan akan berujung atau berakhir di dapur. Sehingga
sosok perempuan yang berprestasi
dan bisa menyeimbangka n antara keluarga dan karir menjadi sangat langka
ditemukan. Perempuan
seringkali takut untuk berkarir
karena tuntutan perannya sebagai ibu rumah tangga. |
|
|
Seseorang
akan terus belajar sampai akhir hidupnya, tidak mengenal apakah ia seorang wanita |
Scene 6 : Video
seorang perempua n yang sedang belajar. |
Smartphone |
Tidak
masalah, karena ilmu parenting itu butuh dan sangat penting. Mungkin ilmu teori kita
gak |
Teknit shot menggunaka n medium shot. |
|
atau
lelaki. Karena pendidikan dan belajar merupakan hak dan kewajiban semua
orang. |
|
|
terlalu
berguna 100% tapi softskill kita, sense kita terhadap sesuatu, pola
pikir dan lainnya itu pasti
kepake. Dengan perkembangan IPTEKS, kita butuh pengetahuan lebih untuk
mendidik dan pada intinya kita tidak akan rugi berpendidikan tinggi meski
tidak berkarir tapi bisa total dalam keluarga. Menunjukkan bahwa seorang
perempuan itu jangan di anggap lemah dan jangan pernah di anggap sebagai pelengkap |
|
|
|
|
|
dalam
hidup saja, karena meskipun pada dasarnya seorang perempuan akan berakhir di
dapur dan mengurus keluarga tentu saja hal itu butuh ilmu dan pengetahuan
parenting guna melahirkan anak dan
menjadikan keluarga yang berkualitas. |
|
|
Seseorang
bebas memilih hidupnya akan seperti apa dan akan menjadi apa, yang terpenting
kita tidak melupakan hak dan kewajiban kita sebagai manusia dan |
Scene 7 : Video
seorang perempua n yang sedang wisuda atau video keberhasil an seorang |
Smartphone |
Ketika
saya sudah selesai menempuh pendidikan lalu melanjutkan berkarir di dunia
kerja dan ditempatkan di salah satu instansi besar, akan seperti apa
pandangan masyarakat |
Teknik shot menggunaka n long shot, medium long shot, dan medium shot. |
|
sebagai
makhluk sosial. |
perempua
n. |
|
terhadap
saya? Adanya segmentasi jenis kelamin dalam angkatan kerja, praktik
penerimaan dan promosi karyawan yang bersifat deskriminatif atas dasar gender
membuat perempuan terkonsentrasi
dalam sejumlah kecil sector perekonomian, umumnya pada pekerjaan- pekerjaan
berstatus lebih rendah daripada laki-laki. Asumsi
masyarakat yang menyatakan bahwa pekerjaan perempuan hanya sekedar tambahan peran |
|
|
|
|
|
dan
tambahan penghasilan keluarga juga menjadi salah satu sebab rendahnya tingkat
partisipasi tenaga kerja perempuan. |
|
|
Memilih suatu |
Scene 8 : |
Smartphone |
Ketika memilih |
Teknik shot |
|
pekerjaan diluar |
Video |
|
pekerjaan diluar |
menggunaka |
|
kebiasaan |
seorang |
|
biasanya, |
n long
shot, |
|
seorang |
militer |
|
seorang |
medium
long |
|
perempuan |
perempua |
|
perempuan |
shot, dan |
|
merupakan |
n. |
|
harus siap |
medium
shot. |
|
sebuah |
|
|
menerima segala |
|
|
tantangan yang |
|
|
sesuatunya. |
|
|
besar. |
|
|
Disamping itu |
|
|
|
|
|
saya merasakan |
|
|
|
|
|
bahwa |
|
|
|
|
|
kesetaraan |
|
|
|
|
|
gender itu ada, |
|
|
|
|
|
hanya |
|
|
|
|
|
Kesetaraan |
|
|
|
|
|
gender bukanlah |
|
|
|
|
|
pemberian hak |
|
|
|
|
|
dan kewajiban |
|
|
|
|
|
yang sama |
|
|
|
|
|
persis antara |
|
|
|
|
|
laki-laki dan |
|
|
|
|
|
perempuan
tanpa ada pengecualian. Tapi lebih kepada bagaimana mengoptimalkan fungsi
peran dalam hak dan kewajiban tersebut secara optimal, sesuai dengan
gendernya masing-masing tanpa menutup kemungkinan terjadinya pertukaran peran jika memang diperlukan, karena
konsep gender bukanlah sesuatu yang absolut, banyak negosiasi yang bisa
dilakukan untuk sama- sama mendapatkan peran yang |
|
|
|
|
|
sesuai
bahwa Kesetaraan Gender itu lebih ke bagaimana cara mengoptimalkan dalam
fungsi perannya dan gender tidak menutup kemungkinan terjadinya pertukaran. |
|
|
Dalam
sebuah hubungan pasti akan ada sebuah perbedaan pendapat, dalam hubungan
keluarga sekalipun. Tapi, meskipun pendapat itu berbeda, tidak menjadikan
mereka sebagai orang asing. |
Scene 9 : Video
interaksi seorang perempua n dengan Mamanya . |
Smartphone |
Mama,
dalam step by step yang kami lalui
menjadi seorang TNI banyak pelajaran penting dan ilmu yang kami dapatkan tidak hanya ilmu beladiri, PBBAB dan
menembak saja yang kami dapatkan, tapi dari mulai belajar untuk menjahit baju, |
Teknit
shot menggunaka n medium long shot dan medium shot. |
|
|
|
|
mengepel
lantai, membersihkan toilet, mencuci piring sampai masak pun kami diajarkan. |
|
|
Sadar atau |
Scene 10 : |
Smartphone |
Bahwa |
Teknik shot |
|
tidak, dilupakan |
Video |
|
Kesetaraan |
menggunaka |
|
atau pura-pura |
seorang |
|
membuka |
n long
shot, |
|
dilupakan, |
wanita |
|
kesempatan |
medium
long |
|
kebebasan |
yang |
|
seluas-luasnya |
shot, dan |
|
untuk memilih |
berkarir. |
|
agar kedua |
medium
shot. |
|
jalan hidup ada. |
|
|
gender tersebut |
|
|
|
|
|
mampu berkarya |
|
|
|
|
|
dan |
|
|
|
|
|
melaksankaan |
|
|
|
|
|
hak dan |
|
|
|
|
|
kewajiban |
|
|
|
|
|
sesuai perannya |
|
|
|
|
|
secara optimal |
|
|
|
|
|
tanpa ada |
|
|
|
|
|
intervensi dari |
|
|
|
|
|
masing-masing |
|
|
|
|
|
gender kepada |
|
|
|
|
|
gender lainnya, |
|
|
|
|
|
dengan kata lain |
|
|
|
|
|
memberikan |
|
|
|
|
|
kesempatan |
|
|
|
|
|
seluas-luasnya |
|
|
|
|
|
untuk |
|
|
|
|
|
perempuan dan |
|
|
|
|
|
laki-laki
agar mampu berkarya dan
melaksanakan hak serta kewajiban dengan lebih baik lagi, tanpa ada yang
didiskriminasi. Perempuan berhak diperlakukan adil dan sama di ruang publik,
mulai dai hal sederhana sampai hal yang lebih kompleks. Intinya adalah tidak
ada penindasan bagi kaum perempuan untuk semua hal. |
|
BAB IV
HASIL YANG DICAPAI
Isu-isu kesetaraan gender hingga saat ini masih ramai apabila dijadikan topik perbincangan, khususnya pembahasan mengenai masalah ketimpangan antara keadaan dan kedudukan perempuan dan laki-laki di masyarakat. Sebenarnya, isu kesetaraan gender sudah ada sejak lama, namun belum banyak masyarakat yang menyadari akan hal itu, karena di lingkungan lain isu mengenai kesetaraan gender belum begitu mengemuka. Kesetaraan di sini tidak diartikan semata-mata laki-laki “sama dengan (=)” perempuan, tetapi seimbang atau saling melengkapi kedudukannya untuk berkontribusi dalam menunjang pembangunan bangsa.
Hasil yang di capai dari judul yang kami ambil menggunakan analisis SWOT sebagai berikut:
1. Strength
Kesetaraan gender di era globalisasi sekarang memang sudah biasa terjadi, wanita di era sekarang tidak hanya di tuntut bisa mengatur rumah tangga bya sendiri tetapi juga mereka memiliki karir yang dapat mereka tempuh sesuai bakat dan kemampuan mereka. Bahkan banyak juga wanita yang berkedudukan lebih tinggi di banding laki laki seperti menduduki beberapa peran penting di sebuah perusahaan atau perkantoran.
2. Weaknesses
Kelemahan dalam hal kesetaraan gender ini dengan banyaknya laki laki yang bermalas-malasan dalam mencari kerja apabila memiliki pasangan yang sudah bekerja atau berkarier, beberapa kasus juga banyak laki laki yang bekerja tetapi penghasilan nya di bawah penghasilan pasangannya yang menjadikan laki laki itu diremehkan.
3. Opportunity
Dari segi kesempatan banyak juga wanita yang memiliki kesempatan memperbaiki kehidupan mereka. Dulu wanita di pandang hanya untuk masak, mengurusi rumah tangga. Namun pandangan tersebut sekarang sirna dengan seiringnya perkembangan teknologi dan zaman yang semakin maju, wanita bisa mencapai jenjang karier yang mereka inginkan.
4. Thereats
Ancaman perihal kesetaraan gender ini adalah banyaknya wanita yang lebih mementingkan karier ketimbang segi biologisnya. Seperti banyaknya wanita yang terus bekerja demi kualitas hidupnya tetapi dia lupa juga dengan hakikat wanita yang sebenarnya. Banyak dari mereka yang menunda-nunda menikah bahkan bila sudah mereka menikah mereka sibuk mengurus karier nya ketimbang kasih sayang untuk keluarganya.
BAB V PENUTUP
Anwar, M. (2017). FILSAFAT PENDIDIKAN (1st ed.). KENCANA.
Fauziah, R., Mulyana, N., & Raharjo, S. T. (2015).
Pengetahuan Masyarakat Desa Tentang Kesetaraan Gender. Prosiding Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 259–268.
https://doi.org/10.24198/jppm.v2i2.13536
Gusmansyah, W. (2019).
Dinamika Kesetaraan Gender dalam Kehidupan Politik Di Indonesia. Hawa, 1(1). https://doi.org/10.29300/hawapsga.v1i1.2233 Kharisma, B.
(2017). Anak Perempuan Cenderung Putus Sekolah. Koran Sulindo,
February, 1–4.
https://www.researchgate.net/publication/315797463_Anak_Perempuan_Cen
derung_Putus_Sekolah
Khowatim, K. (2020). Peran Konselor Dalam Konseling
Multibudaya Untuk Mewujudkan Kesetaraan Gender. Bikotetik (Bimbingan Dan Konseling:
Teori Dan Praktik), 4(1),
11–15. https://doi.org/10.26740/bikotetik.v4n1.p10-15
Palulungan, L., K., M. G. H. K., & Ramli, M. T.
(2017). Perempuan, Masyarakat Patriarki
& Kesetaraan Gender.
Rahim, A. (2016). Pendidikan Inklusif
Sebagai Strategi Dalam Mewujudkan Pendidikan Untuk Semua. Jurnal Pendidikan Ke-SD-An, 3(1),
68–71. https://doi.org/10.30738/trihayu.v3i1.819
Roziqin, A., Suwitri, S., Apryanto, A.
A., & Sihidi, I. T. (2019). Pendidikan Berbasis Kesetaraan Gender Di
Provinsi Jawa Tengah Education Based on Gender Equality in Central Java
Province Ali Roziqin. SOCIA: Jurnal Ilmu-
Ilmu Sosial, 16(2), 202–210.
Samaha, E., Meria, P., Hernigou, A.,
& Duclos, J. M. (2004). Implementasi Kesetaraan Gender Dalam Bidang Pendidikan. Annales d’Urologie, 38(1), 35– 44.
Suma Tune, W. (2015). Implementasi Kesetaraan Gender Dalam
Bidang Pendidikan. MUSAWA, 7(1), 158–182.
