Jejak Langkah Menggapai Bintang

 


Satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap masa depan kamu adalah diri kamu sendiri, dan hanya kamu seorang

***

Saya adalah seorang perempuan yang terlahir menjadi anak bungsu di keluarga saya, diberi nama Nita tanpa embel-embel nama panjang. Anak bungsu yang suka dibilang serba sisa, katanya. Bukan dari keluarga berada ataupun kekurangan, tapi keluarga berkecukupan, alhamdulillah. Kota Tasikmalaya adalah kota di mana saya dilahirkan, dibesarkan, dan menjadi tempat menetap sampai saat ini.

Katanya, anak bungsu itu selalu mendapat kemudahan dalam mencapai suatu keinginannya, jarang sekali seorang anak bungsu mengalami suatu proses yang bisa dibilang berat dalam mencapai keiinginannya. Tapi sepertinya hal itu tidak bisa disamaratakan kepada semua orang. Ada di antara mereka yang harus berjuang keras supaya keinginannnya tercapai, ada dari mereka yang tidak mudah mengutarakan keinginannya hanya karena takut keinginannya malah memberatkan. Takut melangkah. Mungkin itu yang bisa menggambarkan sisi kelemahan dalam diri saya. Saya pernah membaca sebuah tulisan bahwa, satu-satunya orang yang bertanggung jawab terhadap masa depan kamu adalah diri kamu sendiri dan hanya kamu seorang. Roda kehidupan tentunya tidak selalu diam di satu titik, ia berputar seiring berjalannya waktu  dalam hidup manusia. Seperti halnya yang ada dalam firman Allah, bahwa sesuatu itu diciptakan berpasang-pasangan. Ada sedih dan bahagia, ada tangis dan tawa, ada gagal dan berhasil, ada terang dan gelap, dan lainnya.

Dengan satu kalimat itu membuat saya berpikir, masa depan saya nantinya akan seperti apa ya? Tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa saya akan atau harus melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi. Di keluarga saya tidak ada yang sampai menginjak ke jenjang perguruan tinggi dan keadaan ekonomi keluarga juga tidak memungkinkan untuk membiayai saya kuliah, hal itulah yang tidak membuka pikiran saya saat itu untuk memiliki keinginan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun pertanyaan itu terus bersemayam di pikiran, saya mau jadi apa? Apa yang akan saya lakukan nanti ketika lulus SMK? Sampai suatu ketika, saya berani mengambil keputusan untuk melangkah lebih jauh. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Itu adalah keputusan terbesar yang berani saya ambil selama hidup terhitung sampai saat ini.

“Bagus, kamu punya keinginan besar. Meskipun kamu belum tahu cara mengejarnya bagaimana dan seperti apa, yang peting kamu punya keinginan dulu.” ucap seseorang waktu itu.

Saya gagal di tahun pertama mendaftarkan diri di Perguruan Tinggi Negeri. Sedih? Pasti. Kecewa? Iya. Tapi saya bersyukur karena keluarga saya tidak mengetahui dengan jelas bagaimana saya berjuang untuk bisa lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri, karena saat pengumuman itu bertepatan pula dengan Abah (bapak) saya yang masuk rumah sakit. Tidak terbayang oleh saya kesedihan seperti apa yang akan ditampakkan oleh Mamah ketika mendapatkan dua musibah sekaligus. Ada yang pernah bilang bahwa, “keberanian itu saat kita takut tapi tetap melangkah, keyakinan itu saat kita ragu tapi tetap maju, dan kekuatan itu adalah saat kita lemah tapi tetap berusaha.”  Di tahun selanjutnya saya mencoba lagi mendaftarkan diri, dengan segala usaha yang saya bisa, informasi yang saya dapat, restu orangtua yang menyertai dan doa yang tak hentinya saya langitkan. Saya kembali menemukan sebuah tulisan yang berbunyi, “Tidak ada permintaan yang sulit jika kau mencarinya dengan mengandalkan kekuatan Allah, dan tidak ada permintaan yang mudah jika kita hanya mengandalkan diri kita sendiri. Saya percaya dengan kekuatan doa, meskipun doa adalah selemah-lemahnya usaha, tapi doa adalah sekuat-kuatnya senjata. Alhamdulillah, doa saya Allah kabulkan. Saya diterima masuk di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Siliwangi di Jurusan Pendidikan Masyarakat.

Dan di sini saya sekarang, di Jurusan Pendidikan Masyarakat Universitas Siliwangi, sedang menempuh pendidikannya di semester 4. Banyak pengalaman yang sudah saya dapatkan di sini, meski itu masih terhitung sedikit jika dibandingkan dengan orang lain yang memiliki pengalaman lebih besar. Pengalaman ketika menjadi Mahasiswa baru waktu awal-awal masuk kuliah dengan kegiatan orientasinya, rasanya itu pengalaman yang sulit dilupakan. Saya yang tidak pernah mengikuti organisasi di sekolah sebelumnya, kini berkesempatan untuk ikut aktif di organisasi himpunan mahasiswa. Saya yang pada dasarnya memiliki sifat pemalu, harus sering berinteraksi dengan orang-orang banyak karena tuntutan tugas kuliah.

Ketika itu saya berpikir untuk tidak terus berada di zona nyaman, hingga akhirnya saya memutuskan untuk aktif mengikuti kegiatan yang ada di jurusan, dan baiknya himpunan mewadahi itu semua dengan mengadakan kegiatan-kegiatan positif untuk para mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Masyarakat. Seperti ikut menjadi panitia dalam acara kegiatan seminar nasional Pendidikan Masyarakat, itu merupakan pertama kalinya saya mengikuti acara besar di suatu kegiatan dan menjadi salah satu pihak yang ada di balik layar. Saya yang pukul 8 malam harus sudah tidak keluar rumah, saat itu saya jadi sering pulang malam kerena harus mempersiapkan untuk acara Seminar Nasional tersebut. Saya yang jarang keluar rumah, ketika kuliah jadi sering berkunjung ke tempat-tempat jauh. Seperti saat melakukan observasi untuk tugas kuliah yang mengharuskan terjun ke lapangan langsung. Selain itu, dua tahun berjalan ini saya ikut aktif di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Masyarakat dan di tahun kedua ini saya mendapat amanah menjadi koordinator divisi kerohanian. Banyak pengalaman yang diberikan himpunan kepada saya, yang mungkin tidak akan saya dapatkan di luar sana. Terjun langsung untuk membuat sebuah program, rasa kekeluargaan dalam berorganisasi, relasi yang bertambah, dan masih banyak lagi pengalaman yang lainnya.

Jika ditanya tentang pencapaian apa yang saat ini sudah saya dapatkan, sederhananya saya bisa bertahan sampai saat ini sudah menjadi sebuah pencapaian bagi saya. Tetapi jika harus dijabarkan, pencapaian terbesar saya sampai saat ini adalah bisa menginjak pendidikan sampai ke perguruan tinggi, itu menjadi salah satu hal terbesar. Karena jika saya tidak lolos ke perguruan tinggi ini mungkin pencapaian lainnya belum tentu saya dapatkan. Dalam bidang organisasi bisa menjadi salah satu bagian dari Himpunan Pendidikan Masyarakat, menjadi koordinator divisi kerohanian Himpunan Pendidikan Masyarakat periode 2021 dan menjadi sekretaris di komunitas Kemuslimahan Penmas Unsil periode 2021. Selain itu juga, alhamdulillah saya pernah menjadi juara 1 di lomba menulis kisah inspiratif yang diadakan oleh Rumah Diksi Universitas Siliwangi, organisasi yang mewadahi atau menaungi mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Selain itu, diluar lingkungan kampus saya sudah berhasil membuat 2 buah buku antologi dari kelas menulis dan komunitas yang saya ikuti. Dan pencapaian yang menurut saya ini diluar dari dugaan dan rencana adalah bisa membentuk sebuah perkumpulan yang diberi nama Morfosarasa. Sebuah perkumpulan yang terbentuk dari keresahan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental, sehingga berharap Morfosarasa bisa menjadi sebuah platform digital yang dapat membantu mengatasi atau menyuarakan gerakan kesehatan mental. Terdiri dari 6 orang perempuan mahasiswa Pendidikan Masyarakat yang berada dalam satu kelas yang sama. Kami aktif membagikan informasi seputar kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan mental di media sosial Instagram dengan nama akun @morfosarasa. Memiliki misi untuk menggerakkan Indonesia sehat mental, melakukan sharing session tentang informasi mengenai kesehatan mental dan masalah yang sedang dihadapi, diharapkan dengan kami menyuarakan apa yang menjadi kegelisahan maka beban akan sedikit terurai. Filosofi nama Morfosarasa sendiri yaitu diambil dari kata ‘metamorfosis’ yang diartikan sebuah perubahan, dan kata ‘rasa’ yang diartikan apapun yang kita rasakan maka harus memiliki titik temu dari permasalahan tersebut. Dengan kata lain, nama Morfosarasa berarti satu rasa untuk menuju sebuah perubahan yang lebih baik.

Setiap orang pasti memiliki target atau rencana kehidupannya dan katanya pernah ada yang bilang bahwa jika kamu memiliki suatu rencana maka simpanlah itu jangan sampai orang lain tahu, cukup mereka tahu ketika apa yang kamu rencanakan itu sudah berhasil kamu capai. Apapun rencana saya nantinya, semoga yang terbaik juga menurut Allah, dan dikuatkan saya dalam memperjuangkannya. Untuk Morfosarasa yang sedang saya tekuni bersama teman-teman, semoga bisa menjadi platform yang mewadahi dalam menyuarakan kesehatan mental, semoga bisa semakin membumi dengan tetap melangitkan doa kepada Allah Swt.


- Tsm, 30.03.21 -

Postingan populer dari blog ini

Tiga Poin Menarik dari Buku What’s So Wrong About Your Self-Healing karya Ardhi Mohamad

Kesetaraan Gender dalam Pendidikan di Indonesia

Pemanfaatan Media Sosial Instagram sebagai Media Penyampaian Informasi Tentang Kesehatan Mental di Masa Pandemi